Potensi ekspor cangkang sawit

Indonesia terkenal sebagai negara yang kaya akan hasil bumi dan varinitas rempah-rempahnya. Sehingga tidak mengherankan, apabila banyak Negara-negara tetangga yang banyak melakukan permintaan akan ekspor kekayaan tersebut. Dalam wacana dunia bisnis pasar ekspor terbaru memproyeksikan bahwa kini buah kelapa sawit tidak hanya sekadar laku dalam wujud yang mentahnya. Melainkan limbah produksi kelapa sawit pun sangat memiliki potensi cukup lumayan besar dalam kontestasi penguasaan ekspor. Tidak hanya demikian, bahkan kurang lebih sejak tiga tahun belakangan ini negara Indonesia dibanjiri oleh banyaknya permintaan ekspor limbah produksi kelapa sawit. Utamanya dalam bentuk limbah yang berupa tandan buah kosong dan tempurung atau cangkang yang kian gencar. Hal ini dibuktikan dengan adanya kegiatan lawatan sekaligus promosi dagang hasil bumi yang dilakukan oleh delegasi sawit Indonesia ke Tokyo. Nah, penasaran bukan? Apakah ini adalah tanda bahwa potensi ekspor cangkang sawit ke Jepang merupakan salah satu kegiatan yang akan menyokong suburnya berkembangnya bidang perkebunan dan ekonomi Indonesia.

Menyorot Potensi Ekspor Cangkang Sawit ke Jepang

Upaya baik yang dilakukan beberapa delegasi penjabat tinggi negara, yang diantaranya diwakili oleh Kemenerian Perdagangan, Kementerian ekonomi dan sumber daya manusia (ESDM), Badan Pengelola Dana Pekebunan (BPDP) Sawit, Aprobi, Perhepi, Apcasi sekaligus diikuti oleh perwakilan dari beberapa pengusaha eksportis Indonesia.  Sejatinya merupakan tindak lanjut dari pengamatan berkala oleh pengusaha sawit, yang kurang lebih dilakukan dalam kurun waktu beberapa tahun kebelakang. Dan nyatanya hasilnya positif, dimana ekspor komponen buah kelapa sawit yang berupa cangkang dan tandan kosong menduduki rate yang sangat pesat. Ini mrupakan pontensi baru yang harus direspon dengan baik dan seprofesional mungkin.

Lawatan diplomasi dan promosi dagang ke Tokyo yang dimulai dari tanggal 10 - 14 Juli 2017 tersebut akhirnya mendapat kesepakatan yang baik dan diprediksikan akan memberi keuntungan untuk pengembangan hasil perkebunan sawit di Indonesia. Dimana kegiatan ekspor tersebut sejatinya bermula dari pengiriman biomassa sawit ke Negara Jepang pada tahun 2016, yang memiliki jumlah total kurang lebih mencapai 450.000 ton. Kapasitas besar yang melebihi satuan ekspor ke Korea, yang hanya mengirim sebanyak 400.000 ton. Dari permintaan ekspor yang lumayan fantastis ini, nilai yang dihasilkan sendiri ditaksirkan menembus angka lebih dari Rp. 1 triliun.    

Permintaan Tinggi Cangkang Sawit Ke Luar Negeri

Jumlah ekspor dalam kapasitas yang fantastis ini, apabila dirinci secara detail adalah sebagai salah satu bentuk yang mengindikasikan tumbuh kembangnya perusahan-perusahaan Jepang yang kian pesat. Utamanya dalam perhitungan tiga tahun belakangan ini. Apabila dipresentasikan tumbuh-kembangnya menembus angka 4% lebih per tahun.  Sudah barang tentu hal ini akan diseimbangkan dengan kebutuhan jumlah permintaan cangkang sawit yang relative tinggi. Sementara untuk harga limbah produksi cangkang sawit itu sendiri dikenakan tarif, Kurang lebih sekitar US$ 80 - US$ 85 per ton f.o.b.

Banyaknya jumlah ekspor tersebut langsung dipertegas oleh beberapa pihak yang berangkutan, lebih tepatnya oleh Kementerian Perdagangan, Ekonomi, dan Industri negara Jepang, Dimana saat ini negara Jepang telah memiliki energi mix hingga mencapai angka 14,6%. Secara detail keseluruhan energi tersebut ialah berupa komponen dari energi baru dan terbarukan (EBT). Yang diantaranya berjumlah kurang lebih sekitar 2% bahan baku dasar dari bioenergi, yang salah satu diantaranya tersebut berasal dari pengolahan cangkang sawit.

Ladang Baru Perusahaan Jepang Dari Produksi Cangkang Sawit

Tidak hanya sekadar demikian, ada kemungkinan besar pada 2030 kebutuhan ekspornya meningkat. Dimana Jepang akan meningkatkan target EBT menjadi 25%. Hal yang demikian berlaku pula untuk rate bioenergi, akan meningkat kurang lebih menjadi 4%. Bahkan di satu sisi pemerintah Jepang pula memiliki master plan untuk menetapkan kebijakan baru terkait harga jual listrik yang bersumber menggunakan EBT. Proyeksi bisnis yang diharpakan akan menjadi ladang baru dalam ruang lingkup kancah investasi.

Hajat tersebut, sudah barang tentu di sambut baik oleh pemilik usaha selaku pelaku bisnis. Bahkan Ketua Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia, secara langsung akan membuat kesepakatan ekspor limbah produksi cangkang csawit dengan beberapa perusahaan milik Jepang. Dimana kerjasama ini akan dilakukan kurang lebih dalam kurun waktu 10 tahun kedepan.

Sebagai pematiknya, bahkan telah ada planning untuk membuat 5 pembangkit listrik yang berkapasitas sebesar 320 MW.  Peluang besar untuk membuat investasi pembangunan pembakit listrik sebear 40 MW di area Ibaraki, Jepang. Dengan mengandalkan biofuel sawit produk indonesia sebagai bahan baku utama energi.

Artikel Lainnya

Masih banyak artikel menarik lainnya seputar bisnis cangkang sawit.

Daftarkan usaha dan kebutuhan anda di
CangkangSawit Indonesia ?

Dapatkan penawaran langsung ke email anda langsung dari pembeli baik untuk kebutuhan lokal maupun ekspor.
Daftar Sekarang
Cangkang Sawit Indonesia. Copyright 2022, All right reserved.